Peningkatan Keterampilan Musik Jemaat melalui Pelatihan Suling Bambu
DOI:
https://doi.org/10.59395/altifani.v6i5.1196Keywords:
pelatihan musik, suling bambu, keterampilan musikal, musik gerejawi, pemberdayaan jemaatAbstract
Keterbatasan keterampilan membuat dan memainkan instrumen menjadi salah satu kendala dalam pengembangan pelayanan musik Jemaat GPM Hatumete dan Jemaat GPM Yamahena. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mengembangkan keterampilan jemaat melalui pelatihan permainan suling bambu, pembuatan suling bambu, dan permainan dasar keyboard. Kegiatan dilaksanakan selama dua hari menggunakan pendekatan pelatihan partisipatif berbasis praktik yang meliputi demonstrasi, praktik langsung, pendampingan, koreksi, dan evaluasi. Peserta berjumlah 72 orang, terdiri atas 60 peserta permainan suling, 8 peserta pembuatan suling, dan 4 peserta keyboard. Evaluasi dilakukan melalui tes praktik awal dan akhir yang didukung lembar observasi, catatan pelatih, foto, dan video. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa 25 peserta suling atau 41,67% mampu memainkan lagu sederhana, sedangkan 35 peserta telah mampu menghasilkan bunyi dan melakukan penjarian, tetapi masih memerlukan latihan lanjutan. Seluruh peserta pembuatan suling atau 100% mampu membuat dan menyetem suling sesuai tangga nada menggunakan DaTuner. Pada kelompok keyboard, 2 peserta atau 50% mampu memainkan akor dan mengiringi lagu, sedangkan 2 peserta lainnya masih berada pada tahap pembelajaran. Pelatihan ini membentuk keterampilan musikal dasar dan mengembangkan pembuatan instrumen berbasis pengetahuan lokal secara lebih terukur. Keberlanjutan program memerlukan latihan berkala, pendampingan sebaya, dan evaluasi keterampilan yang terstruktur.
Downloads
References
Brennan, M. A., & Israel, G. D. (2008). The power of community. Community Development, 39(2), 82–97. https://doi.org/10.1080/15575330809489743
Cornwall, A. (2008). Unpacking ‘participation’: Models, meanings and practices. Community Development Journal, 43(3), 269–283. https://doi.org/10.1093/cdj/bsn010
Kolb, D. A. (2015). Experiential learning: Experience as the source of learning and development (2nd ed.). Pearson Education.
Latupeirissa, N. A. (2022a). Batu bernada di Ulahahan: Ide pembuatan dan organologi alat musik batu “Pele Vatwam.” Journal of Music Science, Technology, and Industry, 5(1), 49–68. https://doi.org/10.31091/jomsti.v5i1.1974
Latupeirissa, N. A. (2022b). Transmisi musik kapata pelantikan Raja Allang. PROMUSIKA: Jurnal Pengkajian, Penyajian, dan Penciptaan Musik, 10(1), 24–32. https://doi.org/10.24821/promusika.v10i1.6831
Latupeirissa, N. A., & Alfons, R. B. (2026). From coastal material to relational sound: Rethinking organology through the SUKABACA aerophone in Maluku. Gelar: Jurnal Seni Budaya, 24(1), 108–118. https://doi.org/10.33153/glr.v24i1.8336
Rice, T. (2017). Modeling ethnomusicology. Oxford University Press.
Salas, E., Tannenbaum, S. I., Kraiger, K., & Smith-Jentsch, K. A. (2012). The science of training and development in organizations: What matters in practice. Psychological Science in the Public Interest, 13(2), 74–101. https://doi.org/10.1177/1529100612436661
Turino, T. (2008). Music as social life: The politics of participation. University of Chicago Press.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Nelsano Anesry Latupeirissa

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.























